Selasa, 14 Juni 2011

MERAJUT MIMPI, MEMBANGUN ASA, MENGGAPAI CITA (Part 4)

PROYEK PERTAMA: LOMBA KARYA TULIS IKIP SINGARAJA
Tak perlu waktu yang lama untuk mencari orang yang ternyata memiliki tujuan yang sama. Salah seorang rekanku, Mardika Putra menerima begitu saja tawaran untuk bekerja dalam tim dan menyusun karya tulis itu. Target kami: Juara! Sekalipun sebenarnya ini adalah proyek pertama kami.

Berhubung kami tak pernah mengikuti atau klub ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) atau lembaga sejenisnya sama sekali, maka langkah pertama yang harus kami lakukan adalah belajar tentang karya tulis. Segala macam tentangnya. Dengan mengendarai sepeda motor biru milik Bagonk (panggilan akrab Mardika) kami melaju ke perpustakaan provinsi Bali yang berada tak jauh dari sekolahku. Kami mencoba menyusuri setiap lemari yang menjulang tinggi, mencari referensi tentang karya ilmiah. Bodohnya, kami tak mencarinya berdasarkan catalog yang ada di dekat pintu masuk. Nekat saja kami masuk ke dalam dan mencarinya satu per satu diantara ribuan deretan buku yang tersusun rapi. Maklum saja, kami sama-sama anak SMA biasa yang sama sekali belum pernah ke perpustakaan sebelum saat itu. Walhasil, dalam 1 jam kami hanya mendapatkan 3 buah buku yang kami rasa tepat. Kami segera baca, cari poin-poin penting dari informasi dasar yang kami butuhkan untuk menyusun suatu karya tulis yang baik.

Kira-kira selama 2 pekan kami berdiskusi, berbagi pikiran, mencari literatur dan pergi kesana-kemari untuk mencari narasumber yang dapat kami mintai keterangan terkait dengan gagasan kami. Saat itu karya tulis kami tentang potensi pemanfaatan air sungai Badung – sungai terbesar dengan kondisi terkotor yang melintasi kota Denpasar – sebagai air minum. Bismillah, dengan segenap kepercayaan diri kami  mulai melakukan studi literatur, observasi lapangan, pengumpulan data primer, data sekunder dan penyusunan naskah. Hingga akhirnya sebulan lamanya kami mondar-mandir kesana kemari ibarat setrika, kami kirim naskah karya tulis yang telah selesai disusun itu ke panitia dan berharap bisa lolos ke babak final.

Awalnya aku dan bagonk tidak cukup optimis untuk bisa lolos ke babak semifinal. Sebab ini adalah karya tulis pertama yang kami susun. Hari berganti, waktu pun berlalu. Kabar belum kunjung datang. Hingga akhirnya, selang beberapa pekan setelah batas akhir pengiriman kami mendapatkan kabar bahwa ternyata dari 40-an tim yang mengirimkan karyanya, tim kami berhasil masuk ke 6 besar dan diundang menjadi finalis lomba tersebut. Ibarat orang yang tiba-tiba mendapatkan undian berhadiah 1 Milyar, sontak kami kegirangan dan segera mempersiapkan slide presentasi .

Di hadapan dewan juri, kami tampil dengan sedikit gagu dan bahasa yang bercampur antara bahasa formal dan tidak formal. Saat itu sulit membedakan antara bahasa gaul sehari-hari dengan bahasa ilmiah. Maklum saja, kami gugup sekali. Bagaimana tidak? Selain karena ini adalah kali pertama kami presentasi, dewan jurinya merupakan dosen-dosen terbaik di Bali yang telah menyelesaikan studi master dan doktoralnya di German! Hal ini sangat berbeda dengan 5 finalis lainnya yang mempresentasikan karya tulis mereka dengan gaya yang meyakinkan, dan tidak membosankan. Ah, rasanya mustahil bisa menang! Bayangku untuk mendapatkan hadiah berupa uang yang nantinya dapat kugunakan untuk membayar uang sekolah terbang kesana-kemari. Sepertinya ia akan lepas dari genggaman. Fiuuh.

Namun ternyata dugaan kami keliru. Namanya juga manusia, seringkali sok tau. Bayang-bayangku tadi tiba-tiba mendekat dan menyambar tanganku saat panitia mengumumkan bahwa kami berhasil mendapatkan juara II dan berhak mendapatkan hadiah berupa Trophy, piagam penghargaan dan sejumlah uang tunai. Sontak aku lompat kegirangan dari kursi audience sambil mengucap syukur yang mendalam kepada Sang Sutradara Kehidupan: Tuhan. Sungguh tak dapat disangka! Allah mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Padahal saat itu bahkan kami pun tidak yakin dengan diri kami sendiri.

Dengan rasa bahagia yang mengaharu biru, kubawa pulang oleh-oleh trophy juara II dan kupersembahkan untuk ibu. Berharap ibu bisa sedikit tersenyum ditengah sulitnya kondisi keluarga yang menghimpit. Uang yang kudapatkan, sejumlah Rp 250.000 dari  perlombaan itu kuberikan pada ibu. Kukatakan padanya, ini untuk membantu melunasi biaya sekolah. Namun dengan wajahnya yang teduh Ibu menolaknya. Ia menyampaikan padaku untuk menyimpan saja uang itu sebagai tabungan dan membeli apa yang kuinginkan. Aku hanya dapat tertunduk di hadapan Ibu. Batinku, mungkin penghasilan yang kuperoleh ini masih sedikit dan belum bisa membantu banyak. Sejak saat itu kutekadkan untuk mengikuti perlombaan dengan skala yang besar sehingga bisa mendapatkan hadiah yang lebih besar pula. Jadi aku benar-benar bisa membantu ibu. Aku yakin aku bisa!!

0 komentar: