Senin, 13 Juni 2011

MERAJUT MIMPI, MEMBANGUN ASA, MENGGAPAI CITA

Semua ini bermula dari sebuah keinginan yang menggebu-gebu untuk terus menerus belajar dan belajar dan menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Meskipun sebenarnya sangat sulit bagiku untuk bisa mewujudkan harapan itu. Mengingat aku bukanlah berasal dari keluarga mampu yang memiliki anggaran pendidikan yang cukup. Latar belakang pendidikan keluargaku pun tak sejalan dengan cita-citaku yang begitu tinggi: guru besar.

Adanya ketidakpercayaan dan hinaan yang dilontarkan oleh tetangga-tetanggaku di desa kepada keluargaku karena kemiskinan kami mungkin juga menjadi salah satu pemicu hingga saat ini untuk membuktikan kepada mereka bahwa kemiskinan dan latar beakang pendidikan yang rendah bukanlah penghambat bagi seseorang untuk dapat melangkah maju. Maklum lah, image (baca: gambaran) keluarga yang tinggal di rumah berdinding bambu dan beralas semen seadanya di tepian sawah, dipelosok kampung di sudut kota jember memang identik dengan kemiskinan. Tapi maaf, kami kaya akan semangat hidup!

Berlandaskan semangat itulah akhirnya aku terus melangkah menjalani pendidikan dasar. Entah darimana datangnya, rezeki itu selalu ada. Dengan hanya bermodalkan berjualan kacang othok (jawa: kacang kedelai yang digoreng lalu diberi bumbu) yang dibungkus dengan plastik kiloan dan dijual di kantin-kantin sekolah ibuku mampu mengantarkan anaknya hingga setengah masa SD.

Masih segar dalam ingatanku, pada saat pertama kali Ibu membuat kacang othok untuk dijual di kantin sekolah. Setiap malam sekitar jam 2, ketika aku terjaga dari tidurku kulihat ibu sedang terduduk sambil terduduk di sudut kamar ditemani sebongkah lilin. Awalnya aku heran apa yang dilakukannya tengah malam begini. Padahal kemarin rasanya ia ngelonin (Jawa: menemani tidur) aku dan kakakku. Tampak setoples besar kacang kedelai yang telah diberi bumbu di sebelah ibu. Kulihat dirinya sedang memegang plastik panjang yang telah diisi kacang lalu membakar sebagian plastiknya agar plastik itu tertutup rapat. Awalnya aku tak tau apa yang sedang dilakukan ibu. “Ma, lagi ngapain?”, tanyaku polos. “Ini lagi mbungkus kacang othok.” Jawabnya sambil tak melihat ke arahku. “Udah, angga tidur aja… ngapain bangun malem-malem gini.” Tanyanya kembali. “Pengen pipis, ma.” Jawabku sambil menguntai senyum manja. Gigi-gigi ompongku mencuat keluar seolah menyampaikan pesan pada ibu, “Anterin angga ke jedhing (Jawa: Kamar mandi).” Lalu ia raih tanganku dan antarkan diriku ke kamar mandi.

Esok paginya, sebelum Ibu berangkat ke kantor Asuransi tempat ia bekerja, ibu menyuruhku membawa sebungkus kresek besar berisi kacang othok yang telah dibungkus semalaman ke sekolah. Ia berpesan padaku untuk menyerahkan kacang ini ke petugas kantin di SDN Kepatihan II, tempatku bersekolah. Dengan polosnya aku penuhi permintaan Ibu. Meski aku tak tahu untuk apa Ibu menyuruhku seperti itu. Belakangan, ketika aku SMP baru aku menyadari bahwa ibu rela bangun malam-malam, membuat kacang othok, membungkusnya dan menyuruhku menitipkan di kantin sekolah adalah untuk menambah penghasilan dan membiayai kehidpan keluarga kami. Maklum, ibu dan ayah telah bercerai sejak aku berumur 3 tahun dan beban keluarga sepenuhnya ditanggung oleh ibu sejak saat itu. Termasuk biaya sekolahku dan kakakku.

0 komentar: